no-style

Tamsil Linrung, Azizah Nurul Izzah, dan Berkah Cinta

, Juli 20, 2026 WIB Last Updated 2026-07-20T02:37:01Z



  • Oleh: Yusuf Blegur


"Monumen Cinta Bernama Nurul Izzah", merupakan sebuah refleksi cinta dan kasih sayang dari jiwa yang berserah, yang membuncah dari relung batin seorang ayah"


TERASA dalam menyentuh dan menggetarkan, bagi rasa yang tetap menghadirkan Tuhan dalam suka dan duka, pada setiap keluasan dan kesempitan hidup.


"Innalillahi wa Inna ilaihi roji'uun. Turut berduka atas kepergian Nurul Izzah Putri Sulung dari Bapak Tamsil Linrung-Wakil Ketua DPD RI. In syaa Allah almarhumah Nurul Izzah husnul khotimah dan senantiasa kesabaran bagi keluarga yang ditinggalkan. Aamiin yaa rabbal aa'laamiin.


Rabu sore 15 Juli 2026, penulis mendapat kabar duka itu dari Dr. Tony Rasyid, MA, seorang senior intelektual pemikir. Berita yang cukup mengagetkan mengingat kedekatan penulis dengan Tamsil Linrung. Biasa menyebut Kanda Tamsil, sapaan penulis terhadap figur soleh yang bersahaja dan humanis itu. Menyeruak hasrat, ingin sekali taziah menghadiri pemakaman Nurul Izzah namun tak bisa mengikutinya, sebab terkendala waktu dan jarak yang dilaksanakan di daerah Mataram-NTB.


Penulis seketika menyampaikan, ungkapan belasungkawa via what's App pribadi dan grup sebagai bentuk dukungan doa dan membersamai kesabaran dan keikhlasan Kanda Tamsil. Sebagai orang yang kerap mendapatkan perhatian, dukungan dan bantuan seperti layaknya adik sendiri, dari Kanda Tamsil selama beberapa tahun terakhir ini. 


Penulis merasa tergerak untuk menumpahkan perasaan simpati dan empati semampunya atas suasana duka yang menyelimuti Kanda Tamsil beserta keluarga. 


Bukan karena hubungan personal semata, lebih dari itu karena seorang Tamsil Linrung merupakan figur pemimpin yang lintas batas terhadap hubungan sosial yang terjalin luas selama ini. 


Tamsil Linrung dikenal dekat dengan banyak kalangan, baik dari entitas homogen maupun heterogen dalam pelbagai interaksi sosial secara struktural dan kultural. Behavior yang tenang, teduh dan akomodatif menempatkan dirinya sebagai pribadi yang hangat sekaligus dermawan bagi banyak lapisan usia, status dan keberagaman sosial lainnya. Sampai-sampai Tony Rasyid mengulasnya sebagai pemimpin dengan karakter kuat yang menjadi jembatan istana dan oposisi, seperti dalam artikel yang rilis 14 Juli 2026.


Mengiringi suasana kepergian Nurul Izzah, ada yang begitu menggugah dan membuat larut setiap perasaan. Bukan sebatas suasana duka bagi keluarga, khususnya bagi Tamsil Linrung sebagai ayahnya. Namun, ada yang menggetarkan batin, ketika Tamsil Linrung membuat deskripsi berisi latar, pengalaman, dan hingga cara melepaskan kepergian Nurul Izzah yang begitu emosional dan menyentuh. Cinta Allah melebihi cinta Tamsil Linrung dan keluarganya pada Nurul Izzah.


Ungkapan yang ekspresif dan tulus berbentuk esai, dengan tema; "Monumen Cinta Bernama Nurul Izzah" itu. Lebih dari sekadar ekspresi kesedihan yang mendalam karena kehilangan putri sulung tercinta. 


Rangkaian kisahnya, menjadi saksi betapa hubungan tak sebatas antara anak dan orang tua. Tapi juga tentang kesadaran transendental yang tak bisa memisahkan eksistensi keluarga dengan ghiroh Islam dan penghambaan hakiki terhadap sang pencipta dan juga ketundukan penuh kehadirat Allah subhanahu wa ta'ala.


Buah hati putri pertama Tamsil Linrung yang bersejarah itu, menyimpan nilai yang namanya diilhami dan mengilhami. Dari satu persahabatan dan mengambil nama putrinya Dato' Sri Anwar Ibrahim, yang kini menjadi Perdana Menteri Malaysia. Hingga nama Nurul Izzah juga diabadikan, sebagai nama Masjid di lingkungan Sekolah Insan Cendekia Madani (ICM) yang dikelolanya. Sangat jelas nafas spiritual kental, mengiringi kesadaran gelar Ayah yang dikatakan Tamsil Linrung lebih mulia dari jabatan apapun.

 

Tamsil Linrung yang peluh menapaki jalan terjal, hingga mampu memberi makna pentingnya kesadaran ideal spiritual dan kesadaran rasional material. Sebagaimana prinsip-prinsip kehidupan, manusia tak bisa lepas dari agama. Sebagaimana dalam pikiran yang pernah dituangkan, dalam buku Warisan Hikmah Tamsil Linrung: "Islam untuk Kemanusiaan, Keadaban, dan Kenegaraan".


Telah melewati banyak perjalanan panjang, dengan penuh warna suka duka. Tamsil Linrung kembali menjalani fase kehilangan keluarga, yakni berpulangnya putri sulung tercinta, Nurul Izzah. Keinsyafan bahwasanya, semua yang ada di dunia adalah milik Allah dan apa yang dimiliki manusia tak ubahnya hanya amanat atau titipan. Begitupun Azizah Nurul Izzah, in syaa Allah sakitnya, hingga dipanggil ke hadirat Allah, sebagai penggugur dosa dan kecintaan Allah kepadanya. Kepergian Nurul Izzah, membawa ketaqwaan seorang hamba pada Sang Khalik dan kesolehan sosial sebagai warisan kehidupan dunia dan akhirat ayahnya.


Begitulah Tamsil Linrung, umat sekagus pemimpin yang berkarakter dan penuh kesahajaan. Penulis yang pernah kehilangan putra sulung, juga sungguh dapat merasakan suasana batin yang sama. Tamsil Linrung bukan hanya menjadi Ayah bagi Nurul Izzah, melainkan bagi banyak anak diluar hubungan biologis yang membutuhkan perhatian dan kasih sayang juga. Semua Kebaikannya, kelak menjadi doa dan harapan yang terus dibawa oleh Nurul Izzah dan lainnya.


Tamsil Linrung dan Azizah Nurul Izzah, adalah kisah abadi yang menjadi berkah cinta. 


Semoga Allah jadikan Nurul Izzah, menjadi cahaya yang menerangkan jalan keridhoan dan surga bagi Tamsil Linrung, seorang Ayah dunia akhirat. Aamiin.. yaa rabbal aa'laamiin. (YB/FC)



Bekasi Kota Patriot,

4 Safar 1448 H/19 Juli 2026.

Komentar

Tampilkan

  • Tamsil Linrung, Azizah Nurul Izzah, dan Berkah Cinta
  • 0

Kabupaten